Matakanan.com - Perdebatan tentang hubungan antara sekularisme, religiositas, dan kemajuan suatu negara terus menjadi topik yang menarik.
Data menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat sekularisme tinggi cenderung lebih maju dalam berbagai aspek seperti ekonomi, IPTEK, kebahagiaan, serta rendahnya tingkat korupsi dan kriminalitas. Sebaliknya, banyak negara dengan tingkat religiositas tinggi masih tertinggal dalam pendidikan, kesejahteraan sosial, dan tata kelola pemerintahan.
Namun, benarkah sekularisme adalah faktor utama yang menentukan kemajuan? Ataukah ada variabel lain yang lebih berpengaruh? Korelasi antara sekularisme dan kemajuan memang tampak kuat, tetapi tidak serta-merta berarti bahwa religiositas menjadi penghambat pembangunan.
Kemajuan suatu negara ditentukan oleh berbagai faktor kompleks, seperti kebijakan publik, sejarah, sistem pendidikan, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan serta inovasi.
Negara-negara seperti Norwegia, Denmark, Finlandia, dan Kanada yang lebih sekuler memiliki sistem pendidikan yang unggul, transparansi dalam pemerintahan, serta investasi besar dalam riset dan teknologi.
Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Sebaliknya, negara-negara dengan tingkat religiositas tinggi sering kali menghadapi tantangan dalam bidang pendidikan, kebebasan akademik, dan keterbukaan terhadap perubahan. Namun, menganggap religiositas sebagai penyebab utama keterbelakangan adalah penyederhanaan yang tidak akurat.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban besar di masa lalu, seperti Kekhalifahan Abbasiyah dan Dinasti Tang di China, mengalami puncak kejayaan justru ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, meskipun mereka memiliki landasan budaya dan kepercayaan yang kuat.
Ini membuktikan bahwa religiositas pada dirinya sendiri bukanlah faktor penghambat, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam masyarakat.
Masalah muncul ketika religiositas dijadikan alat untuk mempertahankan status quo, membatasi kebebasan berpikir, dan menolak inovasi.
Beberapa negara dengan tingkat religiositas tinggi memiliki regulasi yang menghambat perkembangan IPTEK, membatasi akses perempuan terhadap pendidikan, atau bahkan menolak sains yang bertentangan dengan dogma tertentu.
Hal-hal semacam inilah yang akhirnya memperlambat laju pembangunan dan membuat negara-negara tersebut tertinggal dibandingkan negara yang lebih terbuka terhadap rasionalitas dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, di negara-negara maju yang lebih sekuler, nilai-nilai moral dan etika yang berasal dari agama tetap dijunjung tinggi, tetapi mereka tidak menjadikan agama sebagai alat kontrol yang membatasi kebebasan akademik dan kebijakan berbasis data.
Mereka memahami bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi utama bagi kemajuan, sementara nilai-nilai moral dapat menjadi pedoman dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
Jika ada satu faktor yang secara konsisten mendorong peradaban maju, itu adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara-negara yang memprioritaskan pendidikan berkualitas, riset, dan inovasi akan lebih cepat berkembang, terlepas dari apakah mereka sekuler atau religius.
Oleh karena itu, perdebatan yang lebih relevan bukanlah antara sekularisme dan religiositas, melainkan bagaimana suatu bangsa mampu menempatkan IPTEK sebagai prioritas utama.
Jika nilai-nilai agama dapat berjalan beriringan dengan rasionalitas dan kemajuan, maka peradaban tidak hanya akan maju secara teknologi, tetapi juga tetap memiliki landasan etika yang kuat.
Pada akhirnya, sekularisme memang memiliki korelasi kuat dengan kemajuan, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Negara yang lebih religius pun bisa maju jika mampu menyeimbangkan antara nilai-nilai moral dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Tantangan utama bukanlah pada sekularisme atau religiositas, melainkan bagaimana sebuah negara memastikan bahwa kebijakan publiknya mendukung inovasi, transparansi, dan kesejahteraan masyarakat.
Tanpa IPTEK dan pemerintahan yang berkualitas, tidak ada peradaban yang benar-benar bisa berkembang, terlepas dari ideologi atau tingkat religiositasnya. (*)
0 Komentar :
Belum ada komentar.